Inter Milan disebut sedang menghadapi persoalan serius di sektor pertahanan pada awal kompetisi Serie A 2026. Presiden klub Giuseppe Marotta mengakui bahwa Nerazzurri kehilangan sosok pemimpin di lini belakang setelah berpisah dengan sejumlah pemain senior. Kondisi tersebut membuat Inter lebih mudah kebobolan dan kerap harus mengejar ketertinggalan dalam pertandingan.
Inter Milan kehilangan beberapa pemain berpengalaman di lini belakang. Giuseppe Marotta mengakui klub membutuhkan pemimpin baru untuk memperkuat pertahanan.
Masalah pertahanan menjadi salah satu sorotan utama dalam perjalanan Inter pada awal musim. Klub asal Milano itu masih mampu menunjukkan karakter kuat di kompetisi domestik, tetapi penampilan mereka belum sepenuhnya meyakinkan. Inter beberapa kali tertinggal lebih dahulu sebelum bangkit, sebuah pola yang berisiko jika terus berulang, terutama ketika menghadapi lawan-lawan elite di Eropa.
Dalam wawancara dengan Sky, Marotta menyampaikan bahwa Inter memang kehilangan sosok sentral yang mampu mengatur organisasi pertahanan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tanggung jawab bertahan tidak hanya berada di pundak para bek atau penjaga gawang.
Marotta Akui Inter Kehilangan Pemimpin di Pertahanan
Menurut Marotta, persoalan Inter bukan sekadar kesalahan individu. Klub harus beradaptasi setelah kehilangan beberapa pemain yang selama ini memberikan pengalaman, komunikasi, dan ketenangan ketika tim berada dalam tekanan.
“Saya setuju bahwa kami kehilangan seorang pemimpin di pertahanan. Namun, kami telah berpisah dengan empat pemain yang memiliki peran tersebut. Situasi itu menimbulkan kesulitan yang objektif. Meski demikian, sepak bola dimainkan oleh 11 pemain, sehingga masalah ini bukan hanya kesalahan lini belakang,” ujar Marotta dalam wawancara yang dikutip Sky.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa manajemen Inter memahami akar persoalan yang sedang dihadapi. Bek tengah memang menjadi pusat koordinasi, tetapi sistem pertahanan modern menuntut kerja sama seluruh tim. Penyerang harus memberikan tekanan awal, gelandang wajib menutup jalur umpan, sementara garis pertahanan harus menjaga jarak dan koordinasi.
Jika salah satu elemen tersebut tidak berjalan, lawan dapat mengeksploitasi ruang di antara lini. Inilah yang tampaknya terjadi pada Inter dalam sejumlah pertandingan awal Serie A 2026. Tim masih memiliki kualitas individu, tetapi belum menemukan stabilitas kolektif seperti yang diharapkan.
Empat Kepergian Mengubah Struktur Inter
Inter sebelumnya memiliki sejumlah pemain senior yang dapat membantu menjaga keseimbangan tim. Mereka bukan hanya berperan ketika berada di lapangan, tetapi juga menjadi rujukan bagi pemain yang lebih muda dalam sesi latihan dan ruang ganti.
De Vrij, Acerbi, dan Darmian Tidak Dipertahankan
Inter memutuskan tidak melanjutkan kerja sama dengan Stefan de Vrij, Francesco Acerbi, dan Matteo Darmian. Ketiganya memiliki pengalaman panjang di level tertinggi sepak bola Italia maupun Eropa.
De Vrij dikenal sebagai bek yang tenang dalam membangun serangan dari belakang dan cukup kuat dalam membaca pergerakan lawan. Acerbi, di sisi lain, selama bertahun-tahun menjadi salah satu pemain yang vokal dalam mengatur garis pertahanan. Sementara itu, Darmian menawarkan fleksibilitas karena mampu bermain sebagai bek sayap maupun bagian dari tiga bek.
Kepergian mereka membuat Inter kehilangan kombinasi antara pengalaman, kepemimpinan, dan pemahaman terhadap sistem permainan. Pengganti mereka tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga harus cepat memahami tuntutan taktik serta tekanan bermain untuk klub sebesar Inter.
Dumfries Disebut Pergi Setelah Klausul Diaktifkan
Selain tiga pemain senior tersebut, Denzel Dumfries juga disebut meninggalkan Giuseppe Meazza setelah Real Madrid mengaktifkan klausul pelepasannya. Kepergian pemain asal Belanda itu berpotensi memengaruhi keseimbangan Inter di sisi kanan.
Dumfries memiliki karakter agresif sebagai wing-back. Ia mampu memberikan lebar permainan, melakukan penetrasi dari sisi lapangan, dan membantu menciptakan keunggulan jumlah pemain ketika Inter menyerang. Dalam sistem tiga bek, peran wing-back sangat penting karena pemain tersebut harus aktif dalam dua fase permainan.
Laporan yang menjadi dasar artikel ini juga menyebutkan bahwa Inter sempat mengajukan tawaran bernilai rendah untuk mempertahankan salah satu pemain yang kontraknya berakhir. Tawaran tersebut ditolak dan sang pemain kemudian dikabarkan melanjutkan karier ke Panathinaikos. Informasi transfer ini tetap perlu dibaca berdasarkan konteks laporan sumber karena detail kontrak dan waktu kepindahan dapat berubah sesuai konfirmasi resmi klub.
John Stones Belum Menjadi Solusi Instan
Untuk mengisi sektor pertahanan, Inter disebut mendatangkan John Stones dengan status bebas transfer. Secara reputasi, bek asal Inggris itu memiliki pengalaman besar di level klub dan internasional. Ia juga terbiasa bermain dalam sistem yang menuntut bek mampu mengoper bola secara akurat sekaligus menjaga posisi tinggi.
Namun, Stones belum memberikan dampak maksimal. Ia dilaporkan tampil dalam jumlah terbatas karena kondisi fisik yang belum optimal setelah melewati musim panas tanpa klub. Situasi tersebut kemudian diperburuk oleh cedera paha yang membuatnya harus menepi.
Kondisi ini menjelaskan mengapa kehadiran Stones belum langsung menyelesaikan masalah Inter. Pemain dengan pengalaman tinggi sekalipun membutuhkan waktu untuk mengembalikan kebugaran, beradaptasi dengan rekan setim, dan memahami detail sistem baru.
Adaptasi Menjadi Faktor Penting
Bek tengah tidak dapat dinilai hanya dari jumlah tekel atau duel udara. Pemain di posisi tersebut harus memahami kapan menaikkan garis pertahanan, kapan bertahan lebih dalam, serta bagaimana menutup ruang ketika wing-back bergerak maju.
Stones juga perlu membangun hubungan dengan bek-bek lain dan gelandang bertahan. Komunikasi menjadi aspek krusial, khususnya ketika Inter menghadapi tim yang memainkan serangan cepat melalui umpan di belakang garis pertahanan.
Apabila mampu kembali ke kondisi terbaik, Stones dapat menjadi opsi penting bagi Inter. Namun, klub tidak bisa menggantungkan seluruh harapan kepada satu pemain yang baru pulih dari persoalan kebugaran dan cedera.
Inter Dikaitkan dengan Fenn Jeltsch
Untuk kebutuhan jangka panjang, Inter disebut memantau Fenn Jeltsch. Bek muda tersebut dinilai memiliki potensi dan dianggap dapat menjadi bagian dari proyek regenerasi di lini belakang Nerazzurri.
Meski demikian, upaya merekrut Jeltsch tidak akan mudah. Inter diperkirakan harus mengeluarkan biaya besar dan bersaing dengan klub-klub Premier League yang memiliki kekuatan finansial lebih besar. Persaingan tersebut dapat meningkatkan nilai transfer sekaligus memperumit negosiasi.
Jika Inter benar-benar menjadikan Jeltsch sebagai target, keputusan tersebut menunjukkan bahwa klub ingin membangun kembali fondasi pertahanan. Namun, investasi terhadap pemain muda membutuhkan perencanaan. Ia mungkin belum langsung menjadi pemimpin utama, sehingga Inter tetap membutuhkan bek berpengalaman sebagai pendamping selama proses perkembangan berlangsung.
Mengapa Masalah Ini Lebih Terlihat di Eropa?
Inter masih beberapa kali mampu bangkit di Serie A ketika kebobolan lebih dahulu. Kualitas teknis, kedalaman skuad, dan pengalaman menghadapi tekanan membuat mereka memiliki peluang untuk membalikkan keadaan.
Namun, pertandingan Eropa memiliki tuntutan yang berbeda. Lawan biasanya lebih efektif dalam memanfaatkan kesalahan kecil. Pergantian posisi yang terlambat, ruang kosong di belakang wing-back, atau komunikasi yang tidak sempurna dapat langsung berujung peluang emas.
Selain itu, pertandingan Eropa sering mempertemukan Inter dengan tim yang memiliki kualitas individu tinggi di lini depan. Penyerang lawan dapat mengubah satu momen menjadi gol, sehingga kebiasaan tertinggal lebih dahulu menjadi jauh lebih berbahaya.
Tekanan terhadap Josep Martínez
Penjaga gawang Josep Martínez turut menerima kritik setelah Inter beberapa kali kebobolan. Namun, menimpakan seluruh kesalahan kepadanya tidak akan menyelesaikan persoalan. Penjaga gawang sangat bergantung pada perlindungan lini pertahanan dan kualitas tekanan dari pemain di depannya.
Jika lawan dapat melepaskan tembakan dari area berbahaya atau berhadapan langsung dengan kiper, peluang kebobolan tentu meningkat. Karena itu, evaluasi harus mencakup seluruh struktur bertahan, bukan hanya performa Martínez di bawah mistar.
Manuel Akanji Masih Dirindukan
Inter juga disebut merindukan versi terbaik Manuel Akanji yang tampil pada musim sebelumnya. Pemain tersebut dianggap mampu memberikan keseimbangan melalui kekuatan fisik, kecepatan menutup ruang, dan kemampuan bermain dalam beberapa posisi di lini belakang.
Kehilangan pemain dengan karakter seperti Akanji membuat Inter harus menemukan formula baru. Pengganti ideal bukan hanya bek yang kuat dalam duel satu lawan satu, tetapi juga pemain yang dapat menjaga garis pertahanan ketika tim bermain agresif.
Pelatih Inter perlu menentukan kombinasi bek yang paling stabil, bukan sekadar memilih pemain dengan reputasi terbesar. Konsistensi dalam beberapa pertandingan akan membantu membangun kepercayaan dan memperbaiki koordinasi antarpemain.
Langkah yang Harus Diambil Inter pada Serie A 2026
Inter perlu memperbaiki beberapa aspek agar masalah pertahanan tidak berkembang menjadi krisis. Pertama, tim harus mengurangi kesalahan saat kehilangan bola. Transisi negatif yang buruk sering membuat bek menghadapi situasi tidak seimbang.
Kedua, lini tengah harus lebih disiplin dalam menutup ruang. Bek akan kesulitan jika lawan dapat menerima bola dengan bebas di depan kotak penalti. Ketiga, Inter membutuhkan pemimpin baru yang mampu mengatur rekan setim, baik melalui komunikasi maupun keputusan dalam situasi sulit.
Keempat, proses pemulihan Stones harus dilakukan secara hati-hati. Memaksanya tampil sebelum benar-benar siap justru dapat memperbesar risiko cedera dan menghambat adaptasi. Di saat yang sama, pemain muda harus diberi kesempatan secara terukur agar mendapatkan pengalaman tanpa menanggung tekanan berlebihan.
Serie A 2026 akan menjadi ujian penting bagi kedalaman skuad Inter. Persaingan domestik berlangsung ketat, sementara jadwal Eropa menuntut rotasi berkualitas. Jika pertahanan tidak segera menemukan kestabilan, keunggulan Inter dalam penguasaan bola dan produktivitas serangan dapat kehilangan nilainya.
Pada akhirnya, persoalan Inter bukan hanya tentang mencari satu bek baru. Nerazzurri harus membangun ulang kepemimpinan, komunikasi, serta disiplin kolektif di lini belakang. Marotta telah mengakui masalah tersebut; tantangan berikutnya adalah memastikan klub memiliki solusi yang mampu bekerja dalam jangka pendek maupun panjang.
FAQ Seputar Masalah Pertahanan Inter Milan
Masalah utama apa yang dihadapi Inter Milan?
Inter mengalami penurunan stabilitas di lini belakang setelah kehilangan beberapa pemain berpengalaman. Tim juga beberapa kali kebobolan lebih dahulu dan harus mengejar ketertinggalan.
Siapa saja pemain senior yang disebut meninggalkan Inter?
Laporan sumber menyebut Stefan de Vrij, Francesco Acerbi, dan Matteo Darmian tidak dipertahankan. Denzel Dumfries juga dikabarkan pergi setelah klausul pelepasannya diaktifkan.
Apakah John Stones bisa langsung memperbaiki pertahanan Inter?
Stones memiliki pengalaman dan kemampuan yang dibutuhkan, tetapi belum dapat menjadi solusi instan karena persoalan kebugaran serta cedera paha. Ia membutuhkan waktu untuk kembali ke level terbaik.
Mengapa Inter membutuhkan pemimpin baru di lini belakang?
Pemimpin pertahanan berperan mengatur posisi, menjaga komunikasi, dan membantu rekan setim mengambil keputusan saat berada dalam tekanan. Kehilangan beberapa pemain senior membuat fungsi tersebut belum tergantikan secara optimal.