Kylian Mbappe mengungkap Liverpool sempat hampir merekrutnya dari AS Monaco pada 2017. Namun, keinginan bermain di Paris membuatnya memilih PSG.
Kylian Mbappe akhirnya menjadi salah satu penyerang paling terkenal di dunia, tetapi perjalanan kariernya bisa saja dimulai di Liga Inggris. Bintang Prancis tersebut mengungkap bahwa Liverpool pernah berada dalam posisi kuat untuk merekrutnya ketika ia masih memperkuat AS Monaco.
Ketertarikan The Reds muncul pada 2017, tepat ketika Mbappe mulai mencuri perhatian di Eropa. Saat itu, Liverpool masih dilatih Jurgen Klopp dan sedang membangun proyek jangka panjang dengan mengandalkan pemain-pemain muda berpotensi besar.
Menurut pengakuan Mbappe, pembicaraan dengan Liverpool berlangsung cukup serius. Bahkan, ibunya disebut lebih menyukai kemungkinan sang putra melanjutkan karier di Anfield. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Mbappe. Ia memilih bertahan di Prancis dan menerima tawaran Paris Saint-Germain.
Keputusan tersebut kemudian menjadi salah satu persimpangan penting dalam sejarah kariernya. Bersama PSG, Mbappe berkembang menjadi pemain kelas dunia sebelum akhirnya mewujudkan ambisi bermain untuk Real Madrid.
Liverpool Sempat Berada Dekat dengan Mbappe
Mbappe menyampaikan cerita tersebut dalam wawancara bersama The Athletic. Ia mengakui bahwa Liverpool bukan sekadar klub yang mengamati situasinya dari jauh. Pada masa itu, The Reds benar-benar berusaha membuka peluang untuk membawanya ke Inggris.
Situasi tersebut terjadi ketika Mbappe sedang menjalani musim terobosan bersama Monaco. Penampilan impresifnya membantu klub tersebut bersaing di level tertinggi Prancis dan tampil mengesankan di Liga Champions.
Dengan kecepatan, kemampuan mencetak gol, serta kematangan yang melampaui usianya, Mbappe segera menjadi incaran klub-klub besar Eropa. Liverpool termasuk salah satu tim yang melihat potensi jangka panjang sang pemain.
Namun, transfer itu tidak pernah terwujud. Mbappe memilih PSG melalui skema peminjaman pada musim panas 2017. Kesepakatan tersebut kemudian berubah menjadi transfer permanen dengan nilai yang dilaporkan mencapai sekitar 180 juta euro pada tahun berikutnya.
Ketertarikan Keluarga kepada Jurgen Klopp
Salah satu hal menarik dari cerita tersebut adalah peran ibunda Mbappe. Ia disebut merupakan pengagum Jurgen Klopp dan lebih berharap putranya bergabung dengan Liverpool.
Pada 2017, Klopp memang dikenal sebagai salah satu pelatih paling menarik bagi pemain muda. Filosofi sepak bola yang menekankan intensitas, kecepatan, tekanan tinggi, dan serangan langsung dianggap cocok dengan karakter Mbappe.
Liverpool juga memiliki daya tarik besar sebagai klub dengan sejarah panjang di Eropa. Atmosfer Anfield, reputasi global, serta kesempatan bermain di Premier League membuat klub tersebut menjadi pilihan yang sangat masuk akal bagi pemain muda yang ingin berkembang di Inggris.
Meski demikian, pertimbangan keluarga tidak cukup untuk mengubah keputusan Mbappe. Ia memiliki alasan pribadi yang sangat kuat untuk tetap berada di Prancis.
Mengapa Mbappe Memilih PSG?
Dalam penjelasannya, Mbappe menyebut ada dua faktor utama di balik keputusannya menolak Liverpool. Pertama, ia ingin bermain untuk klub dari kota kelahirannya. Kedua, ia merasa belum waktunya meninggalkan Prancis sebelum benar-benar membangun reputasi sebagai pemain besar.
Kesempatan Membela Klub dari Kota Kelahiran
Mbappe lahir di Paris dan tumbuh di kawasan Bondy, wilayah yang berada di sekitar ibu kota Prancis. Karena itu, PSG memiliki nilai emosional yang tidak dimiliki klub lain.
Bermain untuk PSG memberinya kesempatan tampil di klub terbesar di kota tempat ia berasal. Bagi seorang pemain muda, kesempatan seperti itu sangat sulit ditolak. Ia tidak hanya bergabung dengan klub ambisius, tetapi juga dapat bermain di hadapan keluarga dan lingkungan yang membentuk kariernya.
Faktor kedekatan tersebut menjadi pembeda utama dalam persaingan antara PSG dan klub-klub asing. Liverpool menawarkan proyek sepak bola serta pengalaman baru di Inggris, sedangkan PSG menawarkan hubungan langsung dengan kota dan negaranya sendiri.
Ingin Membuktikan Diri di Prancis Lebih Dahulu
Mbappe juga tidak ingin meninggalkan Prancis terlalu cepat. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi pemain papan atas di kompetisi domestik sebelum mengambil langkah ke luar negeri.
Pertimbangan ini menunjukkan bahwa keputusannya bukan semata-mata soal uang atau popularitas klub. Mbappe menilai perkembangan karier harus dilakukan secara bertahap. Monaco menjadi tempat untuk memperkenalkan dirinya kepada publik, sementara PSG menjadi panggung untuk membangun status sebagai bintang utama.
Strategi tersebut terbukti efektif. Di PSG, ia mendapatkan pengalaman bermain dalam tekanan besar, berkompetisi di Liga Champions, serta berbagi ruang ganti dengan sejumlah pemain ternama dunia.
Karier Mbappe Setelah Menolak Liverpool
Mbappe tidak membutuhkan waktu lama untuk membuktikan kualitasnya di Paris. Setelah pindah dari Monaco, ia berkembang menjadi salah satu pemain paling produktif di Eropa.
Bersama PSG, Mbappe meraih berbagai trofi domestik dan menjadi figur utama dalam lini serang klub. Ia juga tampil konsisten di Liga Champions, meskipun PSG belum mampu mengamankan gelar kompetisi tersebut selama periode kebersamaannya.
Di level internasional, karier Mbappe bahkan berkembang lebih cepat. Ia membantu Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 ketika masih berusia 19 tahun. Prestasi itu memperkuat statusnya sebagai salah satu talenta terbaik generasinya.
Mbappe kemudian menjadi pemain yang sangat dominan di sepak bola Prancis. Kecepatan dalam melakukan penetrasi, kemampuan mencetak gol dari berbagai posisi, serta ketenangan saat menghadapi situasi satu lawan satu membuatnya menjadi ancaman bagi hampir semua pertahanan.
Setelah melewati beberapa musim penuh spekulasi, Mbappe akhirnya meninggalkan PSG dan bergabung dengan Real Madrid. Kepindahan tersebut memenuhi ambisinya untuk memperkuat klub yang memiliki sejarah besar di Liga Champions dan menjadi salah satu tujuan utama pesepak bola elite.
Bagaimana Jika Mbappe Bergabung dengan Liverpool?
Keputusan yang diambil Mbappe pada 2017 tentu menimbulkan pertanyaan besar mengenai sejarah alternatif sepak bola. Jika ia bergabung dengan Liverpool, perkembangan tim asuhan Klopp bisa saja memiliki arah berbeda.
Mbappe berpotensi bekerja sama dengan sejumlah penyerang kelas dunia yang kemudian menjadi bagian penting dari era sukses Liverpool. Namun, tidak ada jaminan bahwa proses adaptasinya di Inggris akan berlangsung secepat ketika ia bermain di Prancis.
Di PSG, Mbappe mendapatkan lingkungan yang sangat familiar. Ia bermain di negara sendiri, menggunakan bahasa yang sama, serta berkembang dalam kompetisi yang sudah dipahaminya sejak usia muda. Keadaan itu membantu mengurangi tekanan ketika ia mulai menjadi pusat perhatian dunia.
Sebaliknya, pindah ke Premier League pada usia 18 tahun akan menghadirkan tantangan yang berbeda. Intensitas pertandingan lebih tinggi, jadwal lebih padat, serta sorotan media Inggris sangat besar. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi proses adaptasi seorang pemain muda, meskipun memiliki bakat luar biasa.
Relevansi Cerita Ini bagi Liga Inggris 2026
Memasuki konteks Liga Inggris 2026, kisah Mbappe dan Liverpool kembali menarik perhatian karena menunjukkan betapa pentingnya keputusan dalam bursa transfer. Klub-klub Premier League kini memiliki kekuatan finansial dan daya tarik global yang sangat besar, tetapi status tersebut tidak otomatis membuat setiap pemain elite memilih Inggris.
Keputusan transfer biasanya dipengaruhi banyak faktor, mulai dari rencana pelatih, kesempatan bermain, peran dalam tim, lokasi tempat tinggal, hingga pertimbangan keluarga. Pengalaman Mbappe menjadi contoh bahwa faktor emosional dapat mengalahkan tawaran dari klub Premier League yang memiliki sejarah dan daya saing tinggi.
Bagi Liverpool, cerita ini juga memperlihatkan pentingnya proses perekrutan pemain muda berpotensi besar. Tidak semua target yang dibidik akan berhasil didatangkan. Klub harus mampu menjelaskan proyek olahraga secara meyakinkan, menawarkan jalur perkembangan yang jelas, dan membangun hubungan kuat dengan pemain serta keluarganya.
Dalam persaingan Liga Inggris modern, klub-klub tidak hanya bersaing dalam hal nilai transfer. Mereka juga berlomba menawarkan visi jangka panjang, stabilitas pelatih, peluang meraih trofi, serta lingkungan yang mendukung perkembangan pemain.
Adapun bagi Mbappe, keputusan untuk tetap berada di Prancis terbukti memberikan fondasi penting bagi kariernya. Ia berhasil menjadi bintang utama PSG, meraih kesuksesan bersama tim nasional, dan kemudian pindah ke Real Madrid sebagai salah satu pemain terbaik di dunia.
Keputusan yang Mengubah Perjalanan Karier
Penolakan terhadap Liverpool tidak dapat dianggap sebagai kegagalan bagi salah satu pihak. Liverpool kehilangan kesempatan merekrut pemain yang kemudian menjelma menjadi superstar, sedangkan Mbappe memilih jalur yang paling sesuai dengan ambisinya pada saat itu.
Keputusan tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan pemain tidak selalu harus dimulai dari luar negeri. Mbappe mampu membangun reputasi di negaranya sendiri sebelum mengambil langkah menuju panggung terbesar sepak bola Eropa.
Pada akhirnya, kisah ini menjadi pengingat bahwa transfer sepak bola bukan hanya persoalan klub mana yang paling besar atau tawaran mana yang paling tinggi. Identitas, keluarga, ambisi pribadi, dan waktu yang tepat juga memiliki pengaruh besar.
FAQ Seputar Mbappe dan Ketertarikannya pada Liverpool
Apakah Kylian Mbappe pernah hampir bergabung dengan Liverpool?
Ya. Mbappe mengungkap bahwa Liverpool sempat berada dekat untuk merekrutnya ketika ia masih bermain di AS Monaco pada 2017.
Mengapa Mbappe menolak Liverpool?
Ia ingin bermain untuk PSG, klub dari kota kelahirannya, dan merasa perlu membangun reputasi terlebih dahulu di Prancis sebelum berkarier di luar negeri.
Siapa pelatih Liverpool ketika Mbappe menjadi target transfer?
Liverpool dilatih Jurgen Klopp ketika ketertarikan terhadap Mbappe muncul pada 2017. Klopp dikenal memiliki reputasi kuat dalam mengembangkan pemain muda.
Kapan Mbappe bergabung dengan PSG?
Mbappe bergabung dengan PSG melalui status pinjaman dari Monaco pada 2017. Transfer tersebut kemudian dibuat permanen pada 2018 dengan nilai yang dilaporkan sekitar 180 juta euro.