Home Liga Inggris Gary Neville dan Roy Keane Berdebat soal Bruno Fernandes dalam Derby Manchester yang Diwarnai Kontroversi

Gary Neville dan Roy Keane Berdebat soal Bruno Fernandes dalam Derby Manchester yang Diwarnai Kontroversi

0 comment

Gary Neville menilai reaksi Bruno Fernandes terhadap Phil Foden merupakan bagian dari permainan, tetapi Roy Keane menegaskan ada batas antara mencari keputusan wasit dan mencoba membuat lawan diusir.

Derby Manchester pada pekan Premier League 2026/27 berakhir dengan kemenangan tipis Manchester City atas Manchester United. Namun, skor 1-0 di Old Trafford pada 13 September 2026 bukan satu-satunya hal yang menjadi sorotan. Sejumlah keputusan wasit dan VAR justru memicu perdebatan panjang, termasuk kartu merah Phil Foden serta gol kemenangan Erling Haaland yang sempat dianulir.

Perdebatan paling panas muncul di studio Sky Sports setelah pertandingan. Gary Neville dan Roy Keane, dua mantan pemain Manchester United yang pernah menjadi rekan setim, berbeda pandangan mengenai peran Bruno Fernandes dalam insiden yang berujung pada pengusiran Foden.

Insiden Bruno Fernandes dan Phil Foden di Old Trafford

Kontroversi bermula pada babak pertama ketika terjadi benturan antara Bruno Fernandes dan Phil Foden. Dalam rangkaian kejadian tersebut, Fernandes terlihat melakukan gerakan ke arah Foden ketika gelandang Manchester City itu berada di lapangan.

Foden kemudian bereaksi dengan menendang atau mengayunkan kaki ke arah Fernandes. Wasit Michael Oliver menilai tindakan pemain City tersebut layak diganjar kartu merah langsung. Keputusan itu membuat Manchester City harus melanjutkan pertandingan dengan 10 pemain.

Masalahnya, Fernandes tidak menerima kartu, bahkan tidak mendapatkan peringatan, meski perannya dalam rangkaian insiden tersebut turut dipertanyakan. Reaksi kapten Manchester United itu juga dinilai oleh sebagian pihak terlalu berlebihan ketika Foden melakukan gerakan balasan.

Perbedaan hukuman tersebut menjadi bahan diskusi utama karena satu tindakan berakhir dengan kartu merah, sedangkan pemain lain yang terlibat lolos tanpa sanksi. Dalam pertandingan dengan intensitas tinggi seperti derby Manchester, keputusan semacam ini dapat memengaruhi jalannya laga sekaligus memicu reaksi dari kedua kubu.

Gary Neville: Pemain Memang Berusaha Memengaruhi Keputusan Wasit

Neville tidak sepenuhnya membenarkan tindakan Fernandes. Ia mengakui bahwa dirinya tidak menyukai kebiasaan pemain yang berusaha membuat insiden terlihat lebih parah. Namun, menurutnya, perilaku tersebut telah lama menjadi bagian dari sepak bola profesional.

Mantan bek Manchester United itu menjelaskan bahwa pemain biasanya akan berusaha memaksimalkan setiap kontak di area penalti untuk mendapatkan tendangan penalti. Dalam situasi tertentu, mereka juga berusaha membuat wasit memberikan hukuman lebih berat kepada lawan.

Menurut Neville, budaya tersebut bukan sesuatu yang baru muncul pada era sepak bola modern. Para pemain dari generasi sebelumnya juga memahami cara memanfaatkan momen, terutama ketika pertandingan berlangsung dalam tekanan besar.

“Kami bisa memperdebatkan hal ini sepanjang hari. Saya pernah berada di ruang ganti selama 15 atau 20 tahun. Jika Anda ditendang di kotak penalti, Anda akan berusaha mendapatkan penalti. Jika seorang pemain menyentuh Anda, Anda berusaha memanfaatkannya,” ujar Neville dalam analisis pascapertandingan.

Ia menambahkan bahwa pemain memang mencoba membuat lawannya dihukum, meski ia menyadari tindakan tersebut tidak selalu sesuai dengan semangat fair play. Neville bahkan menilai praktik itu sulit dihilangkan sepenuhnya karena telah melekat dalam cara pemain menghadapi pertandingan kompetitif.

Roy Keane Tidak Sepakat dengan Penjelasan Neville

Roy Keane langsung membantah sudut pandang mantan rekannya tersebut. Ia mengakui bahwa pemain boleh berusaha memenangkan keputusan wasit, tetapi menurutnya terdapat perbedaan besar antara mencari keuntungan dari sebuah pelanggaran dan sengaja memprovokasi kartu merah.

Keane menilai pemain seharusnya tidak berusaha membuat lawan dikeluarkan dari lapangan melalui reaksi yang dilebih-lebihkan. Baginya, upaya untuk mendapatkan tendangan bebas atau penalti masih dapat dipahami sebagai bagian dari persaingan. Namun, mendorong wasit agar memberikan kartu merah merupakan langkah yang berbeda.

“Saya tidak merasa kami dulu berusaha membuat pemain diusir. Kami berusaha mendapatkan keputusan, tetapi tidak pernah membayangkan untuk mencoba membuat seorang pemain menerima kartu merah,” kata Keane.

Pernyataan tersebut menggambarkan perbedaan karakter antara dua mantan pemain United itu. Neville melihat gamesmanship sebagai realitas yang sulit dihindari dalam sepak bola, sementara Keane lebih menekankan tanggung jawab moral pemain untuk tidak mengeksploitasi wasit secara berlebihan.

Perdebatan tentang Gamesmanship di Premier League

Istilah gamesmanship merujuk pada berbagai cara legal maupun abu-abu yang digunakan pemain untuk memperoleh keuntungan. Contohnya adalah memperlambat permainan, memancing lawan melakukan pelanggaran, menjatuhkan diri ketika kontak minimal terjadi, atau memberi tekanan kepada wasit agar menjatuhkan hukuman tertentu.

Dalam pertandingan dengan tensi tinggi, batas antara kecerdikan dan tindakan tidak sportif sering kali menjadi kabur. Pemain dituntut untuk melindungi dirinya, tetapi pada saat yang sama mereka juga memiliki tanggung jawab untuk tidak menipu perangkat pertandingan.

Perdebatan Neville dan Keane menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan teknologi VAR. Bahkan ketika tayangan ulang tersedia, penilaian terhadap niat pemain, intensitas kontak, dan reaksi setelah benturan tetap dapat menimbulkan perbedaan pendapat.

Haaland Mencetak Gol Kemenangan Setelah Intervensi VAR

Kontroversi di Old Trafford semakin besar setelah Erling Haaland mencetak gol yang akhirnya menentukan kemenangan Manchester City. Gol tersebut terjadi pada menit ke-60, tetapi sempat dianulir sebelum VAR melakukan pemeriksaan.

Setelah peninjauan, gol Haaland disahkan. Keputusan itu mengejutkan sejumlah pengamat karena terdapat pemain Manchester City yang berada dalam posisi offside dan dianggap memengaruhi pergerakan lawan sebelum bola berakhir di kaki Haaland.

Pro Ref kemudian menyatakan bahwa VAR keliru dalam menangani situasi tersebut. Menurut analisis mereka, insiden itu semestinya dikembalikan kepada Michael Oliver untuk menjalani pemeriksaan melalui monitor di sisi lapangan. Dengan kata lain, VAR dinilai tidak seharusnya langsung membiarkan keputusan akhir tanpa meminta wasit melakukan on-field review.

Persoalan utama dalam kasus ini bukan hanya posisi offside, melainkan apakah pemain tersebut secara nyata mengganggu pergerakan atau kemampuan lawan untuk bertahan. Dalam aturan sepak bola, posisi offside tidak otomatis menjadi pelanggaran. Pemain baru dapat dihukum apabila terlibat aktif dalam permainan, termasuk menghalangi lawan atau memengaruhi kemampuannya memainkan bola.

Karena itu, keputusan tersebut menjadi bahan perdebatan. Manchester City mendapatkan gol kemenangan, sementara Manchester United merasa dirugikan oleh dua momen besar: kartu merah Foden dan pengesahan gol Haaland.

Dampak Keputusan Wasit terhadap Derby Manchester

Kartu merah Foden seharusnya memberikan keuntungan numerik bagi Manchester United. Namun, City tetap mampu menjaga struktur permainan dan menciptakan momen penting untuk mencetak gol. Haaland kemudian menjadi penentu kemenangan melalui gol pada babak kedua.

Bagi Manchester United, kekalahan ini terasa lebih menyakitkan karena terjadi di kandang sendiri dan dibumbui keputusan kontroversial. Tim asuhan United harus mengevaluasi bukan hanya efektivitas serangan, tetapi juga cara menghadapi pertandingan ketika lawan kehilangan satu pemain.

Sementara itu, Manchester City memperoleh tiga poin penting dari laga tandang yang sulit. Kemenangan di Old Trafford dapat menjadi modal berharga dalam persaingan Premier League 2026/27, terutama karena pertandingan derby sering kali memiliki nilai psikologis lebih besar dibandingkan laga biasa.

Dalam konteks Premier League 2026, penggunaan VAR tetap menjadi bagian penting dari pengambilan keputusan. Teknologi tersebut dirancang untuk memperbaiki kesalahan yang jelas dan nyata, tetapi tidak menghapus ruang perdebatan. Keputusan mengenai pelanggaran, gangguan terhadap lawan, serta intensitas kontak tetap membutuhkan interpretasi manusia.

Mengapa Insiden Ini Penting bagi Premier League 2026/27?

Insiden di Old Trafford kembali memperlihatkan bahwa kualitas perwasitan tidak hanya diukur dari jumlah keputusan yang benar, tetapi juga dari konsistensi penerapan aturan. Ketika satu pemain dihukum kartu merah dan pemain lain lolos tanpa kartu dalam rangkaian kejadian yang sama, publik tentu mempertanyakan standar yang digunakan.

Kasus tersebut juga memperkuat tuntutan agar komunikasi mengenai keputusan VAR lebih transparan. Penonton ingin memahami alasan sebuah gol disahkan atau mengapa wasit tidak diminta melihat tayangan ulang secara langsung.

Untuk klub-klub yang bersaing di Premier League 2026/27, detail seperti ini dapat menentukan posisi klasemen pada akhir musim. Satu kartu merah, satu gol yang disahkan, atau satu keputusan penalti bisa berpengaruh terhadap momentum, kepercayaan diri, dan perolehan poin.

Terlepas dari perdebatan tersebut, Manchester City pulang dari Old Trafford dengan kemenangan 1-0 berkat gol Haaland. Manchester United, di sisi lain, harus segera bangkit dan memastikan kontroversi wasit tidak menutupi persoalan teknis yang masih perlu diperbaiki.

FAQ Seputar Kontroversi Derby Manchester

Siapa yang mendapat kartu merah dalam derby Manchester?

Phil Foden menerima kartu merah langsung setelah melakukan tendangan atau gerakan kaki ke arah Bruno Fernandes pada babak pertama. Manchester City kemudian bermain dengan 10 pemain.

Apakah Bruno Fernandes menerima kartu dalam insiden tersebut?

Tidak. Fernandes tidak mendapatkan kartu kuning maupun kartu merah, meski keterlibatannya dalam rangkaian insiden dan reaksinya terhadap Foden menjadi bahan perdebatan.

Mengapa gol Erling Haaland sempat dianulir?

Gol Haaland pada menit ke-60 sempat dinyatakan tidak sah sebelum VAR meninjau kejadian tersebut. Setelah pemeriksaan, gol akhirnya disahkan. Pro Ref kemudian menilai VAR seharusnya merekomendasikan pemeriksaan langsung oleh wasit di monitor lapangan.

Siapa yang memenangkan derby Manchester pada 13 September 2026?

Manchester City mengalahkan Manchester United dengan skor 1-0 di Old Trafford. Erling Haaland mencetak gol kemenangan pada menit ke-60.

You may also like

Leave a Comment

About Us

Logo pemain12.com

Pemain12.com adalah portal berita sepak bola yang menjadi sumber utama informasi terkini seputar dunia sepak bola. Situs ini merupakan tempat yang sempurna bagi para penggemar sepak bola untuk tetap terhubung dengan berita terbaru tentang pertandingan, transfer pemain, dan peristiwa menarik lainnya dalam dunia sepak bola. 

@2023 – All Right Reserved. Supported by GMTeknologi

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept