Home Liga Italia Beppe Bergomi Kritik Keras Roberto Mancini Usai Italia Takluk dari Belgia

Beppe Bergomi Kritik Keras Roberto Mancini Usai Italia Takluk dari Belgia

0 comment

Legenda Inter Milan Beppe Bergomi menilai Italia tampil tanpa identitas permainan yang seharusnya terlihat setelah kalah 0-2 dari Belgia. Kritik tersebut kembali menyoroti keputusan FIGC menunjuk Roberto Mancini sebagai pelatih Gli Azzurri.

Kekalahan Italia dari Belgia Memicu Sorotan

Italia mengawali kiprahnya pada musim baru UEFA Nations League dengan hasil mengecewakan. Menghadapi Belgia pada laga yang berlangsung Jumat, Gli Azzurri harus menerima kekalahan 0-2. Hasil itu bukan hanya merugikan dari sisi persaingan grup, tetapi juga memperbesar tekanan terhadap Roberto Mancini.

Bagi Beppe Bergomi, masalah Italia bukan sekadar skor akhir. Mantan bek tim nasional tersebut menilai tim asuhan Mancini gagal memperlihatkan pendekatan modern yang selama ini berkembang di Serie A. Italia dianggap masih mengandalkan pola lama tanpa variasi yang cukup untuk membongkar pertahanan Belgia.

“Saya terus terang mengharapkan sesuatu yang sangat berbeda. Italia memang bisa kalah, tetapi saya ingin melihat sebagian permainan yang ditawarkan Serie A musim ini,” ujar Bergomi dalam wawancara yang dikutip Football Italia.

Bergomi membandingkan penampilan Italia dengan sejumlah klub Serie A, termasuk Inter, Roma, Frosinone, dan Como. Menurutnya, klub-klub tersebut memiliki karakter permainan yang lebih jelas, baik dalam membangun serangan, memanfaatkan lebar lapangan, maupun melakukan perubahan posisi di lini depan.

Bergomi Sebut Italia Masih Terjebak Gagasan Lama

Salah satu kritik utama Bergomi diarahkan kepada struktur serangan Italia. Ia melihat Nicolò Barella atau Sandro Tonali masih terlalu sering diminta mendekati penyerang utama untuk menciptakan dukungan di area depan. Skema seperti itu dinilai mudah dibaca karena tidak memberikan cukup banyak pilihan kepada pemain yang menguasai bola.

Dalam sepak bola modern, gelandang tidak hanya dituntut masuk ke kotak penalti. Mereka juga harus mampu mengatur tempo, membuka jalur umpan, dan menciptakan superioritas jumlah di area tertentu. Jika pergerakan gelandang terlalu mudah ditebak, lawan dapat menutup jalur menuju striker serta memaksa tim bermain melebar tanpa tujuan.

Bergomi juga mempertanyakan peran bek sayap Italia. Ia berharap para full-back lebih aktif naik membantu lini depan, terutama ketika winger bergerak ke tengah. Namun, Italia justru terlihat lebih berhati-hati sehingga serangan mereka kehilangan lebar dan variasi.

Cambiaghi Menjadi Pemain Italia yang Paling Menonjol

Di tengah performa tim yang mengecewakan, Bergomi memberikan penilaian positif kepada Cambiaghi. Sang pemain disebut sebagai salah satu pemain Italia yang paling berani mengambil risiko dalam pertandingan tersebut.

Cambiaghi beberapa kali mencoba melewati lawan secara langsung. Pergerakannya bahkan menghasilkan peluang bagi Kean dan Pio Esposito. Namun, peluang-peluang tersebut belum berbuah gol karena penyelesaian akhir Italia masih dapat digagalkan oleh penyelamatan penting penjaga gawang Belgia.

Komentar tersebut menunjukkan bahwa Italia sebenarnya memiliki pemain yang mampu menciptakan perbedaan melalui aksi individual. Persoalannya, kemampuan tersebut belum terintegrasi ke dalam sistem permainan yang konsisten. Cambiaghi tampak bergerak berdasarkan inisiatif pribadi, bukan karena pola kombinasi yang dirancang secara teratur.

Roberto Mancini Kembali dengan Ekspektasi Besar

Penunjukan kembali Roberto Mancini sebagai pelatih Italia membawa ekspektasi tinggi. Dalam laporan yang menjadi dasar artikel ini, Mancini disebut kembali menangani Gli Azzurri pada Juli setelah menjalani periode sukses di Qatar bersama Al-Sadd.

Selama satu musim di Jassim bin Hamad Stadium, Mancini dikabarkan berhasil meraih Qatar Stars League dan UAE-Qatar Super Shield. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan FIGC, melalui presiden Giovanni Malagò, memilih pelatih berusia 61 tahun itu untuk kembali memimpin tim nasional.

Mancini memiliki rekam jejak penting bersama Italia. Ia pernah membawa Gli Azzurri menjuarai Euro 2020, sebuah pencapaian yang mengembalikan kepercayaan publik terhadap tim nasional setelah periode sulit. Karena itu, kepulangannya diharapkan dapat menghadirkan stabilitas sekaligus membangun kembali identitas permainan Italia.

Namun, keputusan tersebut sejak awal tidak sepenuhnya diterima tanpa perdebatan. Sebagian pihak mempertanyakan apakah Mancini masih menjadi sosok yang tepat untuk memulai proyek baru. Kekalahan dari Belgia kemudian membuat keraguan itu semakin kuat, terutama karena Italia tidak menunjukkan perubahan taktik yang signifikan.

Konteks Serie A 2026 Menjadi Sorotan

Kritik Bergomi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Serie A pada 2026. Kompetisi kasta tertinggi Italia dalam beberapa musim terakhir memperlihatkan semakin banyak pendekatan taktik yang beragam. Tim-tim tidak lagi hanya mengandalkan pola 3-5-2 atau serangan balik langsung, tetapi juga mencoba membangun serangan dari belakang, pressing tinggi, serta rotasi posisi yang lebih kompleks.

Inter, misalnya, sering menjadi rujukan dalam pembahasan struktur tiga bek, pemanfaatan wing-back, dan sirkulasi bola dari lini belakang. Roma memiliki pendekatan berbeda dengan penekanan pada kombinasi antarlini dan kualitas pemain kreatif. Sementara itu, klub seperti Como dan Frosinone menunjukkan bahwa tim dengan sumber daya berbeda tetap dapat menawarkan gagasan taktik yang menarik.

Perkembangan itu membuat publik berharap tim nasional mampu menggabungkan kelebihan dari berbagai klub Serie A. Pemain-pemain yang tampil setiap pekan dalam sistem taktik modern seharusnya dapat membantu Italia bermain lebih fleksibel. Akan tetapi, tim nasional memiliki waktu latihan yang jauh lebih singkat dibandingkan klub, sehingga proses menerapkan pola permainan baru tentu tidak mudah.

Perbedaan antara klub dan tim nasional menjadi salah satu tantangan terbesar Mancini. Di level klub, pelatih dapat bekerja bersama pemain setiap hari selama berbulan-bulan. Di tim nasional, pelatih hanya memiliki beberapa sesi latihan sebelum pertandingan. Oleh karena itu, sistem yang digunakan harus sederhana, tetapi tetap mampu memberi kebebasan bagi pemain kreatif.

Tantangan Membangun Identitas Baru Gli Azzurri

Italia membutuhkan keseimbangan antara identitas tradisional dan tuntutan sepak bola modern. Organisasi pertahanan tetap menjadi kekuatan utama sepak bola Italia, tetapi aspek tersebut harus dilengkapi dengan progresi bola yang lebih cepat, tekanan setelah kehilangan bola, serta dukungan lebih agresif dari lini kedua.

Kehadiran Barella dan Tonali memberikan kualitas dalam distribusi bola serta mobilitas. Namun, keduanya tidak boleh hanya digunakan untuk mendekati striker. Mereka juga perlu diberi peran dalam mengontrol ruang, menarik gelandang lawan, dan menciptakan jalur umpan bagi winger maupun bek sayap.

Di sektor depan, Italia juga harus menemukan formula terbaik untuk memaksimalkan penyerang seperti Kean dan Pio Esposito. Striker membutuhkan suplai bola yang konsisten. Tanpa dukungan dari winger, gelandang, dan full-back, penyerang akan terlalu sering terisolasi di antara dua bek tengah lawan.

Mancini Diminta Segera Merespons Kritik

Bergomi mengakui bahwa Mancini memiliki gagasan dan membutuhkan waktu untuk menerapkannya. Namun, ia tetap berharap perubahan mulai terlihat sejak pertandingan pertama. Menurutnya, Italia tidak harus langsung tampil sempurna, tetapi setidaknya perlu memperlihatkan arah permainan yang jelas.

“Saya pikir Mancini memiliki ide dan membutuhkan waktu. Namun, saya benar-benar berharap melihat sesuatu yang berbeda sejak pertandingan pertama,” kata Bergomi.

Kritik tersebut dapat menjadi masukan penting bagi Mancini. Italia tidak cukup hanya mengandalkan reputasi, sejarah, atau kualitas individu. Dalam persaingan sepak bola Eropa yang semakin ketat, detail taktik, intensitas, dan kecepatan mengambil keputusan menjadi faktor penentu.

Laga-laga berikutnya di UEFA Nations League akan menjadi kesempatan bagi Mancini untuk memperbaiki organisasi tim. Perubahan dapat dimulai dari hal mendasar, seperti jarak antar lini, keberanian full-back naik membantu serangan, serta pola tekanan ketika Italia kehilangan bola.

Perjalanan Italia di Nations League Masih Panjang

Kekalahan dari Belgia memang menempatkan Italia dalam situasi yang tidak ideal, tetapi perjalanan kompetisi masih panjang. Hasil tersebut harus segera dievaluasi agar tidak berkembang menjadi masalah kepercayaan diri.

Prioritas utama Italia adalah menemukan konsistensi. Gli Azzurri perlu memiliki cara bermain yang dapat dikenali, baik ketika menghadapi lawan kuat maupun tim yang bermain lebih defensif. Jika pola serangan masih bergantung pada aksi individu, Italia akan kesulitan menjaga produktivitas gol.

Dalam konteks Serie A 2026, tim nasional juga dituntut menjadi representasi dari perkembangan taktik kompetisi domestik. Publik ingin melihat pemain-pemain Italia membawa energi, kreativitas, dan keberanian yang mereka tunjukkan bersama klub. Jika hal itu dapat diwujudkan, era baru Mancini masih berpeluang berkembang menjadi proyek yang menjanjikan.

FAQ Seputar Kritik terhadap Roberto Mancini dan Italia

Mengapa Beppe Bergomi mengkritik Roberto Mancini?

Bergomi menilai Italia tampil dengan pendekatan yang terlalu lama dan mudah diprediksi saat kalah 0-2 dari Belgia. Ia tidak melihat variasi serangan, pergerakan full-back yang agresif, maupun pola permainan modern seperti yang berkembang di Serie A.

Apa masalah utama Italia saat menghadapi Belgia?

Italia dinilai kesulitan menciptakan peluang secara konsisten. Gelandang terlalu mudah dibaca, penyerang kurang mendapatkan dukungan, dan lini belakang tidak cukup aktif membantu serangan melalui sisi lapangan.

Siapa pemain Italia yang mendapat apresiasi dari Bergomi?

Cambiaghi menjadi pemain yang paling mendapat apresiasi. Ia berani melakukan dribel dan menciptakan peluang untuk Kean serta Pio Esposito, meskipun kesempatan tersebut belum menghasilkan gol.

Apakah Roberto Mancini masih memiliki waktu untuk mengubah Italia?

Masih. Tim nasional memiliki waktu untuk melakukan evaluasi dan memperbaiki sistem pada pertandingan berikutnya. Namun, Mancini perlu segera menunjukkan identitas permainan yang jelas agar kritik terhadap keputusannya tidak semakin besar.

You may also like

Leave a Comment

About Us

Logo pemain12.com

Pemain12.com adalah portal berita sepak bola yang menjadi sumber utama informasi terkini seputar dunia sepak bola. Situs ini merupakan tempat yang sempurna bagi para penggemar sepak bola untuk tetap terhubung dengan berita terbaru tentang pertandingan, transfer pemain, dan peristiwa menarik lainnya dalam dunia sepak bola. 

@2023 – All Right Reserved. Supported by GMTeknologi

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept